Senin, Maret 09, 2009

Sawo Belanda!

(ernut's post)

Pas saya dan keluarga iseng ke Cianjur...kami tertarik dengan pajangan pating grandhul yang dijajakan di sepanjang jalan. Tak kuat menahan rasa ingin tahu, akhirnya kami minggir dan mendekat. Oh, ternyata yang dijual itu adalah buah sawo belanda...sungguh katrok kami memang belum pernah mencicipinya..

Akhirnya kami beli dua unting sebagai percobaan..ntar kaluk dirasa cucok bisa balik lain hari untuk beli lagi...

Ternyata rasanya pulen, memang agak mirip sawo, tapi ada miripnya pula dengan telo hehe..sulit deh dideskripsikan!



Saya justru tertarik dengan namanya: sawo belanda! Kok belanda sih? jauh gitu loh! padahal kita sudah mengenal pula terung belanda, yang agak deketan ada jambu bangkok, bahkan rumput manila! pernah tergelitik dengan nama-nama impor itu?

Sekalinya yang dari jawa: asem jawa, gula jawa...warnanya item kecoklatan...

Kamis, Maret 05, 2009

Oseng Laos!

(ernut's post)

Kuliner aneh sore ini disajikan oleh si bibik di rumah. Karena melihat salah satu jenis bumbu dapur yang saya beli pagi ini , yaitu laos menurutnya kemudaan, dia jadi punya ide. Laos itu bukannya dijadikan bumbu untuk bikin oseng tapi justru laosnya itulah yang dioseng! Horok nggak sih?

Laos muda itu diirisnya tipis-tipis, kemudian dioseng bersama kulit mlinjo dan cambah kedelai. Bumbu osengnya? Ya biasalah: bawang merah, bawang putih, irisan cabe yang banyak, salam dan..laos! Laos lagi? ooh..tidaakk!

Tapi ngomong-ngomong, rasanya enak lho! Belum pernah nyoba khan? Cucok buat musim paceklik! Lebih cucok lagi bila disantap dengan nasi anget dari beras organik dan dua iris empal goreng...







Sabtu, Februari 28, 2009

Pengabdian tak kenal medan..

(ernut's post)

Sore wiken ini, saya ada perlu aplud beberapa gambar dari kamera si handsome soulmate. Dari sekian banyak gambar yang ada di memory card kamera, banyak gambar-gambar kegiatan dan kejadian yang kami alami saat suami dinas ke Semarang. Salah satunya foto aneh dan unik ini.

Ceritanya, kantor suami memang deket-deket pelabuhan. Pada saat pertama kali masuk kantor, suami heran, di sebelah meja kerjanya kok disediakan sepatu boot karet. "Untuk apa ini?", tanyanya pada salah satu staf. "Jaga-jaga kaluk rob, pak". "Rob?", wah kedengarannya kok membahayakan.

Bener juga, selama satu tahun lebih berdinas di kantor itu, beberapa kali pula suami cerita bahwa kantornya sedang dilanda rob. Saya sih tidak begitu ngeh tentang keadaan sebenarnya kaluk rob ini datang. Ternyata contohnya seperti gambar ini...

Adik-adik saya malah cekikikan melihat foto itu, dan komentarnya malah pating clebung tentang action kakak ipar ganteng ini, ada yang memberi judul "Sok Tabah", ada yang nyeletuk "Dedikasi tinggi nie". Dasar adik-adik pada nakal!

Jumat, Februari 27, 2009

Celana Sardi

(ernut's post)

Khathok-e Sardi

"Kathok-e Sardi alias Celana Sardi" adalah judul dongeng yang selalu di-request oleh Ulin Ulan, anak-anak saya, kepada papinya menjelang mereka terlena di pulau kapuk. Papinya sendiri memperoleh dongeng itu dari ibunya. Jadi, dongeng jadul turun temurun!, kira-kira begitu.

Alkisah, Sardi mendapat oleh-oleh celana panjang dari Pakdenya. Namun, setelah dicoba, ternyata celana itu kepanjangan. Maka..

"Mak, Sardi minta tolong celana ini dipendekin dikit, kira-kira lima senti ya mak..." pinta Sardi kepada si emak.

"Oke, tapi mak baru masak nih, tangan kotor, nanggung, ntar-ntar aja ya, taruh dekat mesin jahit dulu deh!" jawab si emak.

Adduuhh..kan kepingin segera dipakai, pingin main ke tetangga pakai celana panjang baru....gerutu Sardi sambil tak berdaya, dan ngeloyor ke luar rumah..

Rupanya ayah Sardi mendengar keluh kesah anaknya dan menaruh iba. Maka segera saja dia garap celana panjang anaknya itu, dipotong lima senti dan dijahit rapi kembali pinggirnya. Kemudian si bapak istirahat dan ketiduran...

Setelah selesai masak, si emak yang masih berpeluh langsung menuju mesin jahit. Dengan trampil dia pendekin celana panjang Sardi sesuai permintaan. Setelah kelar, dengan wajah berseri-seri dia lipat rapi celana panjang itu di kamar Sardi dan dia melanjutkan pekerjaan rumah, sekali ini menyapu halaman...

Tak lama Sardi pulang...

"Maaak!!...kok celana panjang Sardi menjadi celana pendek?? hhuuu...huuu..." si Sardi nangis gulung koming...

Kamis, Februari 19, 2009

Oleh-Oleh....

(ernut's post)



Suatu sore,...ragil saya, Ulan, membuka pintu pagar dengan semangat menyambut kedatangan saya yang pulang dari ngantor. Senyumnya yang merekah memperlihatkan gigi ompongnya...seolah mengatakan ada sesuatu yang tak sabar dia ingin ceritakan...

Ulan: "Mami...Ulan ada oleh-oleh buat mami !"

Mami: "Oya, apaan tu?" (tumben nih anak kok bawa oleh-oleh...)

"Ini!", jawab Ulan sambil berbinar-binar...

"Tas kresek?" tanya mami...

"Iya. Ceritanya Ulan tadi di sekolah jajan lontong (arem-arem itu lho-red), nah sama penjualnya lontongnya dimasukin tas kresek ini. Trus tas kreseknya Ulan lipat, Ulan kantongin buat oleh-oleh deh...soalnya Ulan ingat, mami suka cari-cari tas kresek kecil untuk tempat sampah..."


Memang kalau ada sampah yang punya potensi berhamburan saya suka memasukkannya di tas kresek untuk kemudian baru dicemplungkan di tempat sampah...


Mami: "Oh..anakku, terimakasih ya nak oleh-olehnya...."

Sabtu, Februari 14, 2009

ijolan bojo, hopo tumon ?



(post Ika bertamu)

Sudah hampir 2 minggu ini suami saya mulai dinas di Jakarta, tepatnya dirotasi ke Jakarta setelah sempat 6 tahun 9 bulan bertugas di Bandung. Saya dan kedua anak pindah ke Bandung karena mengikuti tugas Mas Budi, sekarang kami malah ditinggal ….. rasanya gimana gitu ( tolong dibayangin ya Nut n Yik). Banyak ritual yang biasa saya lakukan bersama suami jadi hilang, oh sedihnya…... (hik.. hik). Mengurus dua anak laki-laki yang super tanpa bantuan suami membuat saya sedikit kuwalahan, benar-benar menguras energi dan air mata. Seperti hari Rabu ini, pagi sekali saya sudah berurai airmata karena Dio tidak mau mendengar kata-kata saya untuk tidak berangkat sekolah jam 6 pagi wong sekolah masuknya jam 7.30 dan lokasinya dekat rumah (Dio begitu betah di sekolah, masuk paling awal dan pulang ketika menjelang senja). Alhasil pagi-pagi saya sudah menelepon suami sambil menangis terisak-isak…, untungnya suami mau mendengar isak tangis saya ( dipikir pikir kasihan juga suami pagi-pagi harus sarapan tangisan ).

Sebelum suami mulai ditugaskan di Jakarta saya sempat bercerita tentang rotasi di kantor suami pada ketiga sahabat saya ( Ayik, Ernut dan Milut) saat acara reuni di Bandung beberapa minggu yang lalu (sayang …. Tatit tidak bisa hadir). Tiba-tiba saja terdengar celetukan sohib saya si Ayik “sekarang kan kamu di Bandung dan mas Budi di Jakarta, sedangkan Ernut di Jakarta dan mas Oen di Bandung, yo wis daripada capek pulang balik Bandung-Jakarta wis tukaran suami aja..”. “ Tapi kayanya kamu musti nego ke Ernut dulu Ik… tukar tambahnya piro” kata Ayik lagi. Kami berempat yang kebetulan sedang berkumpul di rumah Ernut yang di Bandung langsung tertawa terbahak-bahak membayangkan saya dan Ernut tukaran suami. “ Wah… piye masa suamikut jadi tak berambut dong…. “ kata Ernut. “Eh biar tak berambut tapi seksi lho, dah gak keluar lagi stoknya” sahut saya. Masa sih…, bukannya yang tak berambut dan seksi itu hanya Bruce Willis” kata Ernut lagi. “ Piye tho Nut…, mbok dilihat dengan jelas mas Budi tuh kan mirip banget dengan Bruce Willis bagai pinang tak berbelah” jawab saya.

Tukaran suami…. wah pasti tak pernah sedikitpun terbayang dibenak kami tentunya ( benar gak… friend), ini hanya cara kami untuk saling menghibur…. terutama menghibur saya yang akan memulai kehidupan dengan 2 dapur seperti Ernut. Bagi saya mas Budi adalah anugerah terindah yang diberikan Allah, saya akan berusaha untuk selalu menjaga kesetiaan. Bagi saya, walau rambut mas Budi sudah mulai menipis dia tetap ganteng seperti waktu pertama kami bertemu di UNS (saat itu rambutnya gondrong). Bagi saya, walau badan mas Budi sudah mulai ndut dia tetap seksi persis Bruce Willis. Bagi saya, mas Budi adalah suami dan seorang ayah yang bertanggung jawab. Jadi apa lagi yang harus saya cari...... selain harus bersyukur atas segala rahmat yang telah diberikan Allah SWT. Mas Budi Happy Birthday Feb 11 th 2009….. moga panjang umur dan selalu dalam lindungan Allah, I love you soo much.


(ayik's post)

Ini adalah curhatan sohib Lima sekawan si Ika Budi Widodo, Thx ya Ik sudah bertamu ke DuoEmak. ...I love U...
Selamat ulang tahun buat Mas Budi Widodo. Semoga panjang umur dan sehat selalu, sabar momong Ika, Wibi dan Dio.Amin
Buat Ika, berarti berlaku juga S3 seperti Ernut ya...alias...Saben Sabtu Setor.....qiqiqi

ctt: dari email Ika yang judulnya ...numpang ngetop...qiqiqi

Rabu, Februari 11, 2009

CethinG JaduL...

(ernut's post)

Pada saat sowan ke rumah Budhe, wah...ada tempat nasi (cething) yang sudah kuno sekali...terbuat dari aluminium (?) berwarna abu-abu blirik...
Pastinya, Budhe menyimpan banyak kenangan bersama cething ini...

Punya sesuatu yang antik, yang simpan banyak cerita?

Minggu, Februari 08, 2009

Oseng paye mude

(ernut's post)

Sebagai pecandu aneka jenis oseng...jadinya apa-apa dioseng, nemu kawat ya dioseng, nemu daun pepaya, nemu pare, nemu ceker? ya dioseng...maka dikala nemu pepaya muda di pasar tadi pagi ya langsung di tawar...dapat deh seglundung kecil dua ribu rupiah... untuk dioseng!

Sekali ini, pepaya muda yang telah diiris tipis cukup saya tambah dengan toge kedelai. Irisan cabe yang banyak biar pedes...dan sreng...sreng dengan bumbu standar oseng...

Sajikan bersama nasi cianjur hangat, masih ditemani sambal terasi dan...untuk rame-rame ojo lali krupuk-e! Mantaf!


Jumat, Februari 06, 2009

es Gandul nan jadoel

es gandul itu....

Es batunya digosrok....




Trus dipadatkan dengan dua tutup gelas plastik sajah..., lalu dilumuri syrup...Sudah!


(ayik's post)

Es gandul tali merang,
awakmu njedhul atiku girang....

Alkisah, satu hari lewat di depan DalemBadran sibapak penjual es ini....es gandul....Waaa...ini kan jajanan saya waktu SD duluu...kok masih ada....

Langsung saya cegat sibapak penjualnya dan saya order es gandulnya, rupa-rupanya saya kangen dengan ragam jajanan jaman cilikan saya yang sekarang pasti sudah menjadi benda yang langka....

Es gandul ini dibuatnya cukup sederhana, simpel, bersahaja dan guampiiing....secara, cuma segenggam es batu yang dipasah atawa digosrok yang dicetak menngunakan tutup gelas plastik sajah, dipadatkan dengan tutup gelas satu lagi ,lalu tengahnya disematkan stick bambu, selanjtnya dikocrotin (apa sih istilahnya...) ehhh ya...ditabur...salah yak ? di....siram dengan syrup berwarna menyala.....maka jadilah es gandul yang kita kenal itu....Begitcuu.....

Slurrrp....segernya....manisnya....

Bukan cuma segernya yang saya dapat......nostalgianya itu lho.......

(punya kenangan apa dengan es gandul ini ? , cerita doong...)



Rabu, Januari 28, 2009

Masih (cerita) di Bandung

bergaya di pager Museum AA


ini namanya lapangan Gasibu, kata Aik menerangkan kepada tamunya yang katrok'


Gedung sate, yang baru sekali ini saya kunjungi...



Saya pengunjung, bukan yang jaga gedung...
(ayik's post)

Hari pertama di bandung, sang bintang tamu ini diserahterimakan secara resmi dari lakone sing gemblung kepada keluarga Ika...qiqiqi...kayak barang ajah ya diserahterimaken...Yah, karena Ernut harus mengikuti acara keluarga yang diselenggaraken oleh kantor sang suami tercintah...Good bye, Ernut...Thx ya for all...

Tak lupa ernut menitipken pesan kepada Ika supaya menjaga saya sebaik-baiknya , jangan sampai kaliren dan semaput kelaparan...wakakak.....emang gemblung emak yang satu itu. Kepada sayah, si ernut wanti-wanti supaya makannya jangan banyak-banyak, khawatir persediaan beras Ika habis sayah thothol...qiqiqi....

Lalu oleh Ika dibawanya saya yang pasrah ini kerumahnya yang hangat, bertemu dengan Mas Bud yang dari dulu sampai sekarang tak berubah, still cool lah....Juga kedua jagoannya yang lagi lasak-lasaknya yaitu Wibi dan Dio...plus bonus budhe Sih yang metal...Toss Budhe !

Besoknya, Ika menawari saya pengin kemana ? Saya yang sudah pasrah menyerahkan pilihan "kemana" nya kepada Ika, yang penting jalan-jalan di bandung dan membawa barang bukti berupa foto-foto di Bandung...Lhoh ! kok foto ? harap diketahui, sesungguhnya kami berlima sejak dulu kala dikenal sebagai banci foto yang narsis dan cerah ceria...qiqiqi...Puasss ?

Buat yang pengin tahu wajahnya Ika, inilah dia beliaunya, orangnya rame dan hangat...





Nih die yang namanya Ika alias Aik alias Ikut...

Nah rupanya si Ika ini pengemban amanah yang baik, buktinya oleh Ika saya dibawa menyusuri jejak kuliner di kota Bandung yang baru pertama kali ini saya kunjungi..., dibawanya saya mencicipi Yoghurt di kawasan Cisangkuy, juga ke pasar Kosambi untuk membeli oleh-oleh.

Belum puas dengan itu, bersama Mas Bud dan anak-anak, Ika membawa saya ke Rumah Sosis di kawasan Lembang....Dirasa belum cukup, Mas Bud membawa saya ke Batagor Riri...buteet....benar-benar Ika takut sayah kelaparan....., We lha kok belum cukup juga, Mas Bud masih memaksa saya mencicipi Surabi Bandung yang terkenal itu...Ampunnn....Mas, saya bawa sebagai bekal di kereta saja dah.....Gak muat si buthun ini...Qiqiqi...Ika ketawa puasss...!


Dua jagoan cilik Ika, Wibi dan Dio di Batagor Riri


Bersama Ika dan Wibi di Rumah Sosis

Dan, malam itu, Senin 26 januari, saya akhiri cuti ibu ngojeg saya di Bandung. Sayapun segera meluncur dengan kereta Lodaya menuju Solo, pulang ke Dalem Badran yang sudah satu minggu saya tinggalkan...Selamat Tinggal Bandung, Selamat tinggal Ika dan keluarga...

Ada rasa bahagia tak terkira dihati saya, kala saya mengingat begitu banyak cinta yang saya terima dari sahabat-sahabat saya dan keluarganya...semoga Allah membalas kebaikan mereka...

Ernut, Tatiet, Ika dan Milut...semoga persahabatan ini senantiasa terpelihara...




Lima sekawaN (minus Tatiet) di Bandung

Milut dan sikembar (maksudnya kembar gemblungnya)



(ayik's post)

Setelah dua malam dijamu dirumah lakone maka pagi dinihari Minggu kami berdua lengkap dengan dua prawan kencur Ulin dan Ulan pun meluncur menuju kota Bandung....Bandung, sayah datang....

Tiba di Bandung tentu saja kita menuju Rumah dinas MO (misua tercintah darpada Ernut) , nah disanalah kita janjian untuk ketemu dengan 2 lagi anggota gank Lima Sekawan yang tinggal di kota kembang inih, namanya Milah Jamilah (sunda banget euy) yang akrab kami sapa dengan Milut sajah. Juga satunya lagi si Kartika Chendrawati alias Ika atawa Ikut (maksa banget yah ?)...qiqiqi...maka genaplah kita berempat ...lho kok cuma berempat ? ya ...iyaaa...lahhh..secara anggota gank yang satunya lagi si Tatiet tak bisa ikutan kami karena ada acara keluarganya di Bogor...Ya wiss lah, walhasil tanpa Tatiet, meskipun tak lengkap tapi yah namanya acara dolan-dolin...hajar saja....Maap ya Tiet, abis kamunya sihhh......Maybe, next time kalau aku bisa datang kita bikin acara asyik lagi dehh....(Tatietnangisnyeseldotkom)

Seperti yang sudah sayah perkirakan, memang para sahabat ini agaknya ingin sekali menyenangkan dan menghibur hati saya, karena mereka tahu, saya tak bisa sering-sering bertemu seperti saat ini...jadi, pasti ini adalah kesempatan yang sangat istimewa yang wajib tak disia-siakan....Seperti yang saya rasakan, begitu besar rasa sayang dan cinta diantara kami berlima....qiqiqi...sok melow deh...

Begitulah, berhubung acara paling asyik ketika ketemu begini adalah ngobrol bercanda yang gak jelas dan saling cerita keseharian kita setelah lama berpisah, maka hal yang paling asyik adalah sambil mencoba sajian kuliner di Ampera...Para sohib dengan bangga menceritakan kekhasan menu sunda di Resto Ampera ini, yang ternyata memang nyamleng euyy...Dasarnya saya sudah dipatenkan sebagai abdul buthon maka saya mah pasrah saja mau dibawa kemana sajah...yang penting nothol...qiqiqi.....Namanya juga bintang tamuuu......( plethak ! kepalaku di kethak ernut!)

Masih belum puas dengan acara nothol, si bintang tamu ini dibawalah ke Jl. Riau, dimana disana berserak FO andalan kota Bandung....Wah, saya sampai mbelenger ngeliatnya (padahal tidak belanja blash!), yang penting udah liat suasana khas kota Bandung yang padat dan macet sana-sini dikala musim liburan...

Tak lupa kita juga menyambangi kediaman keluarga sohib ku Ika Kartikah (nama versi sundanya) dan berjumpah dengan bapak Budi Widodo dan dua jagoannya: Wibi dan Dio, so cute....Meluncur ke rumah Milut , nah baru deh untuk yang pertama kalinya kita ketemu sama yang namanya A'a Mamat misuanya Milut Jamilut, juga si kembar Wildan dan Amel yang imyuuut gak kayak emaknya yang amit2...qiqiqi....




Ada halimun di foto ini...Milut, kok cuma kamu yang gambarnya blurr...


Pokoknya, suasana hari itu bener-bener regeng dah...,kita berempat kembali pada habitat dan kithah gemblungnya, nampak deh asli-aslinya kita yang rame abis, yang mungkin dalam keseharian berbeda...pada jaim kalee'....qiqiqi...

di depan rumah Ika


Di studio musik Ika


duo emak jail


Yang anehnya di postingan ini, tan nampak satupun wajah si Ika...., yah, dia kan fotografernya...Kita akan ketemu dengan wajah Ika di posting berikutnya, kawan...



Selasa, Januari 27, 2009

Calon juragan akik


(Ayik di Ibukota part 3)

(ayik's post)

Di hari kedua menginap di rumah lakone sepertinya Ernut sudah punya program jalan-jalan buat menyenangken hati sohib gemblungnya ini. Dia mengajak saya jalan ke Gems Market alias pasar akik di depan stasiun jatinegara. Waaaa....mata saya langsung mak byarrr...melihat aneka aksesori dari bebatuan paporit sayah...untuk diketahui, ya, temans...saya ini penggemar aksesori yang etnik-etnik, yang agak antik dan unik. Tahu sendirilah...sayah ini kan memang orangnya antik dan unik (dan jangan lupa, saya tetep manis lho ya)
Nah, kunjungan ke pasar akik ini sungguh membuat hati saya bungah, meskipun sekedar melihat-lihat tak banyak belanja...qiqiqi...hati saya puas setelah membeli beberapa potong bros batuan untuk oleh-oleh yang di rumah...murah-meriah dan indah...

Ernut sempat mengusulken supaya saya kulakan batuan tua yang sudah menjadi fosil, sapa tahu ada yang berminat belinya sebagai jimat...qiqiqi...gemblung tenan...

Ayik dan Tomyam

(Ayik di Ibukota, part 2)



(ernut's post).

Akhirnya...niat saya tercapai juga, nraktir Ayik TomYam! Sudah lama dia ngiler kuliner pujaan saya, dan akhirnya terpenuhi juga ngicipin TomYam top markotop langganan yang ada di Mangga Dua. Bersama Ulan, ragil saya...Ayik tampak puas...puas..! (Tapi kok masih ngiler ya? woo.... memang ngileran!).

Nah Yik, bagaimana pendapatmu tentang TomYam-nya? Kurang apa? (jawab Ayik: kurang banyak dan kurang sering ditraktir!)



(Ayik's post)

Dihari pertama saya tiba di jakarta, ernut mengirimkan sms begini : " jum'at kita ketemuan, lalu kita makan sup gurameh bersama Tatiet. Sabtu kita ke pasar akik, siangnya kita nothol TomYam di MangDu", dan akhirnya...Yipii yipii yeee...akhirnya saya ketemu juga dengan Tom Yam he..he..secara tadinya cuma dengar-dengar dari Ernutwati yang selalu mengiming-imingi aku ragam thotholan dari ranah thailand ini, di Solo memang pernah menemukannya di sebuah hotel berbintang, tapi Ernut bilang yang ini asleee citarasa negeri gajahputih....begitulah promonya Ernut mengenai si TomYam ini.

Rasanya ? bener-bener memenuhi standart thotholan Mak Nyusss...pedes dan asemnya masih terasa di lidah ku hingga hari ini, Nut...rasa rempahnya kerasa banget....dan menimbulkan tanya..." kapan lagi bisa makan TomYam MangDu seperti saat ini ?"...qiqiqi...teuteup ngarep ajah ditraktir lagih....Ayo Nut...kapan lagi ?

Sikk...sik...kosik, jangan-jangan yang bikin terkenang2 TomYam bukan karena mak nyuss nya, tapi judulnya...gratisan...Wekekek...(idungernutkembangkempis tuuuh...)

O ya, ketika asyik menyantap Tom Yam ini Ernut dengan penuh kasih sayang mengingatkan kepadaku supaya jangan terlalu bernapsu...supaya perutmu gak mules Yik, katanya...qiqiqi...padahal ampas TomYam sudah licin tandas...





Jumat, Januari 23, 2009

Ayik di ibukotA


(ayik's post)

Hari ini, genap 5 hari saya berada di ibukota. Konon kata Ernut memang pantesnya posting ini diberikan judul " Ayik di ibukota ", untuk menandai peringatan akan sebuah peristiwa yang sebenarnya gak penting-penting banget yaitu kedatangan saya di ibukota...qiqiqi....sejujurnya, kedatangan saya di metropolis ini tak akan kesampaian bila tak ada pihak-pihak yang mensponsori saya...qiqiqi...melas amat yak...

Tujuan utama yang sebenarnya penting buat saya adalah bersilaturahmi dengan keluarga besar saya yang kebetulan sedang menerima ujian berupa sakit (ribet amat yak ceritanya)...jelasnya, saya sedang menjalanken misi menengok bebarapa orang kerabat saya yang sedang sakit. Nah setelah selesai bersilaturahmi maka saya menjalanken misi saya berikutnya yang sebenarnya gak penting amat yaitu bertemu dengan sahabat-sahabat tercinta saya yaitu Ernutwati dan Tatiet. Qiqiqi....gak penting amat tapi penting banget...

Alhasil, bertemulah sore ini saya bersama kedua sohib gemblung abadi saya di kantornya Ernut. Oleh Ernut , sebagai tuan rumah yang baik, kami dibawalah ke sebuah tempat makan di daerah Rawamangun dengan menu utama thotholannya seafood, mmm...yummy...

Setelah menothol, maka dilanjutkan dengan ngobrol dan ngariung sepuasnya di rumah Ernut. Lihatlah betapa segar wajah kami dalam foto diatas, sesungguhnya foto diatas tak seperti warna aslinya, karena kami sungguh sangat seger dan bahagia bisa dipertemukan kembali kali ini setelah beberapa waktu kita tak bertemu (terakhir ketemu Ernut 1 bulan yang lalu, dan dengan Tatiet terakhir ketemu 1,5 tahun yang lalu, suwiii ta ?). Maka tak heranlah kalau para Emak ini berkangen-kangenan sepuasnya.

Posting ini dibuat dan ditayangkan di rumah ernut dimana saya menginap malam ini..





(ernut's post)

Saya ndak banyak komentar...cukup dikit saja: Ayik ini makannya banyak...untung stok beras saya masih lima karung qiqi

Senin, Januari 12, 2009

Ireng Maniss..

(ernut's post)



Tak hanya Ireng Maulana yang laris, dawit ireng juga manis (nyambung gak sih?)...

Meski banyak yang sudah pernah ngicipi dawet hitam ini, terus terang kaluk saya memang baru sekali...pas beberapa waktu lalu lewat daerah Kutoarjo, perjalanan dari Solo ke Jakarta lewat jalur selatan-tengah.



Sepanjang jalan kota kecil itu...banyak sekali berderet warung-warung penjual dawet hitam. Tentu kita tak sia-siakan untuk mampir. Dawet hitam ini khusus bagian cendolnya memang berwarna hitam. Warna hitam dikarenakan zat pewarna alami yaitu merang. Kemudian cara masak dan menyajikan ya persis dengan dawet-dawet lainnya (artinya pake mangkok dan pake sendok, kaluk order untuk dibawa pulang ya pake plastik, plus sedotan)...

Sungguh seger singgah di warung dawet pinggir sawah di siang hari bolong, disaat panas matahari menyengat..hilang deh rasa kering tenggorokan ini...Lain kali kaluk lewat lagi, mau mampir lagi ah!



Nah ini, gambar warung dawet manisnya...

ada tiga kepala disitu? oh itu dua gadis kecilkan and my handsome soulmate (suit..suit!)





BuuuandreK!!

(ernut's post)

Dinginnya Tangkuban Perahu...
Tertolong kehangatanmu...
Nuansa langit, awan, gunung nan mengharu biru..
Makin syahdu berteman segelas bandrek yang hanya dua ribu...


Bedanya postingan para ahli kuliner, dengan postingan Ernut Duo Emak tentang minuman bandrek ini...terletak pada bintang foto dan latar belakangnya. Bintang foto saya, segelas plastik bandrek yang nangkring di bebatuan, di pinggir jurang kawah Tangkuban Perahu. Meletakkan gelasnya sudah susah, sempat beberapa kali mau nggoling alias mau tumpah, trus...motretnya juga harus cepet-cepet...karena ada saja pengunjung yang melintas di depan fotograper amatir ini...(kaluk melintasnya lenggang kangkung biasa saja sih ndak masalah..tapi ini lewatnya sambil berpotensi nyampluk-menyenggol si bintang foto...sungguh berbahaya!)...

Konon, bandrek adalah minuman khas Sunda, yang sangat pas disruput saat udara dingin, apalagi hujan dan malam hari lagi..bbrrrr...

Mengapa? Karena bahan-bahannya terbuat dari rebusan jahe dan gula merah dan ada yang suka dengan menambah daun serai juga pandan. Kaluk suka bisa juga dicampur susu bahkan telur ayam kampung (buat jamu kalik ya?)

Yang saya cicipi di Tangkuban Perahu ini mestinya bandrek jenerik, karena harganya murce sekali...tapi sangat lumayan sebagai teman menikmati pemandangan Tangkuban Perahu yang sangat indah.....ssrruuupppuuuttt! aahhh....

SotO KwaLi....


(Gambar oleh Ernut, narasi oleh Ayik)


Emang aneh bener sobung (sohib gemblung) ku yang satu ini, bisa-bisanya ngerjain aku yang manis ini dengan sekedar memajang gambar kwali yang konon ada sotonya...tapi ternyata ada juga soto kebul-kebul didalem sebuah mangkok yang rasanya....wow...

Soto kwali, agaknya nama ini diambil dari kebiasaan memasak soto dalam sebuah wadah tanah liat yang lazim disebut kuali atawa kwali. Konon, soto kuali adalah ragam kuliner asli Solo. Tenaneee....
Bukankah banyak ragam soto di negeri nusantara ini, coba kita hitung saja: ada soto betawi (yang kayak apa?), soto kudus (mungkin Ely tahu resepnya), atau soto ambengan yang khas suroboyo. Yang jelas, apapun namanya, Soto adalah makanan asli Indonesia, berkuah dan berempah...nyamleng dimakan segala cuaca, mau hujan mau panas, hayoo ajah...Kalau cuaca pas hujan dan udara terasa dingin, kita makan soto , maka badan terasa hangat...tenan iki. Kalau hari panas, coba pinggirkan kendaraan Anda, masuklah ke warung soto terdekat, apalagi bila jam menunjukkan waktunya makan siang...menu soto akan mengobati perut anda yang mulai ndangdutan, dan tenda warung soto akan melindungi Anda dari teriknya matahari siang...tenan ta ?

Saya sendiri tak ahli masak soto, tapi saya ahli banget kalau diminta makan soto, haiyya....timbang makan doang dan acungkan jempol gaya Pak Bondan lalu bilang Mak Nyusss...maka sang bakul soto puas, yang nraktir saya juga puas....Lho, hobbynya ditraktir toh ? (akeh tunggale, kata ernut).

Di Solo ada beberapa warung legendaris yang sotonya terkenal top abis enaknya, beberapa diantaranya (yang sudah saya jelajahi) adalah Soto Triwindu yang lolasinya di dalam Pasar Klithikan Triwindu, lalu Soto Gading ( Alun-alun Kidul ke selatan arah Grogol), atau Soto Kadipiro, bahkan ada soto Ledokan di Kartosuro yang disajikan dalam mangkuk mini sehingga kita tak akan puas hanya memesan satu dua porsi saja, untuk yang ini, agaknya saya harus meminta Mas Andy MSE buat nraktirnya...piye Mas...omahmu rak cedhak to ?

Satu porsi makanan berkuah itu terdiri atas nasi, tauge, irisan daging sapi ditambah taburan bawang goreng.Setelah itu, ditambah kuah kaldu tulang sapi dengan bumbu bawang putih, jahe, kunyit, daun jeruk, dan daun salam, serta sedikit garam. Irisan jeruk nipis, kecap dan sambal disediakan pula sebagai campuran. Peneman favorit semangkok soto kuali ini adalah perkedel kentang, tempe goreng garing, paru goreng atau empal sapi...jangan lupa, remukkan selembar karak diatas kuahnya....Nyamleng dah...

Selasa, Januari 06, 2009

Gendul jamU

(ernut's post)

Tak disangka dan tak dinyana, saya ketemu jamu bergendul-gendul yang saya jepret ini justru di suatu hotel bintang empat di Semarang, ketika saya ada kegiatan kantor di sana....Jamu-jamu ini disajikan oleh para tamu di main restaurant hotel tersebut...dan tentu saja karena satu paket dengan sarapan..maka gratis duong...pucuk dicinta ulam tiba (senengnya kaluk nemu yang gratis-gratis...). Yang saya suka adalah gendul khas-nya itu..apalagi ditambah dengan tutup yang berupa gulungan daun pisang, manis, tradisionalis dan terlihat higinis..plus sekali lagi...gratis! (sayang para yu jamu yang ada sekarang ini suka pake botol bekas aqua ya..wah saya jadi tidak begitu berselera...)

Sebetulnya saya bukan penggemar jamu, apalagi yang pait-pait...tapi kaluk jamu rasa beras kencur atau rasa asem...wah itu sih oke, soalnya lebih deket ke minuman segarnya daripada ke nuansa jamunya....

Nah mengenai aneka jenis jamu dan khasiatnya, ahli jamulah yang akan menerangkannya. Yik? siap?

(Ayik's post)

Hue'ehhh...., ketiban sampur juga sayanya....

Nyanyi dulu aaahhhh....

Suwe ora jamu, jamu godhong pare
Suwe ora ketemu, ketemu pisan ora suwe...

Suwe ora ngono, ngono ora suwe
Suwe ora kaya ngono, kaya ngono pisan kok ora suwe...

Terjemahan bebas :
Lama nggak jamu, jamu daun pare
Lama nggak ketemu. sekalinyaketemu ee...nggak lama-lama

Lama nggak 'begitu', 'begitu' enggak lama...
Lama enggak 'begitu', sekalinya 'begitu' kok nggak bisa lama..

Qiqiqi...puas nyanyinya, sekarang ceritanya ;

Jamu adalah ramuan khas asli Indonesia yang fungsinya sebagai obat, belakangan kita mengenalnya sebagai obat herbal, karena mayoritas bahan bakunya didapat dari alam nusantara yang konon kaya raya ini ( tapi penduduknya belum bisa dijamin sejahtera...tenan ikii...)
Mengenai jamu-jamuan sebenarnya saya ra patek dhong, wong saya bukan penikmat jamu, apalagi segala jamu yang kaluk diminum bikin muka jadi jelek sangking pahitnya...wah saya nyirik itu...secara, saya tidak bisa menjamin penampilan saya tetap bisa manis nan elegant kaluk lagi kepahiten merasakan jamu cabe puyang yang super duper pahit itu....Oh tidaak.....
Nah, kaluk kunyit asem, atau beras kencur atau jamu rebusan daun sirih, bolehlah....

Sebenarnya, dibalik rasanya yang sungguh tak enak ada banyak khasiat dari jamu ini, tapi entah kenapa biarpun saya sadar sesadar-sadarnya mengenai khasiat dari aneka jamu jawa, kalau masih bisa menolak, saya memilih untuk tidak meminumnya. Titik.

Masih ingat jaman saya masih kelas 2 SD dulu, dari luar rumah sehabis main-main sore bersama kawan-kawan kecil saya, saya langsung berlari menuju meja makan guna mengambil minuman. Eh, ada sebuah gelas berisi penuh cairan pekat berwarna hitam yang saya tengarai itu adalah kopi Bapak saya..., segera saya ambil sedotan plastik yang ada disamping meja dan langsung saya sruput (tepatnya saya sedot) cairan hitam itu yang ternyata adalah...jamu....Jangan tanya rasanya, pahit-getir dan mengakibatkan panas seketika ditenggorokan dan perut saya. Saya sampai menangis berguling-guling karenanya, biarpun ibu buru-buru membujuk saya dengan sebotol greenspot- softdrink merk jadul...qiqiqi... Oh, apakah ini penyebabnya saya jadi tak suka minum jamu ?

Kemudian saya juga masih ingat ketika saya dipaksa dicekoki ramuan jamu pahit yang diperas dalam saputangan Ibu...whueeekkk....serasa pengin muntah, tapi takut sama Bapak yang memegang erat kedua tangan saya( sambil matanya mendelik menakutkan ) sebagai upaya mensukseskan ritual cekokan, kata Ibu waktu itu saya dicekoki supaya saya doyan makan dan menghindarkan saya dari wabah cacingen...ealaaahhhh....

Nah, ada lagi pengalaman saya dengan jamu-jamuan ini, ketika remaja, sebagai upaya Ibu supaya body saya tidak mbedah (gemuk) setelah mendapat menarche (M pertama) , Ibu menyiapkan jamu seduh dari sebuah merk terkenal, judulnya galian singset dan jamu Putri Remaja. Sumpah, sampai saat ini, Ibu tak pernah tahu kalau jamu-jamu itu akhirnya saya buang di keranjang sampah sekolahan saya...qiqiqi...maapken anakmu, Ibu.

Ketika hamil anak pertama memasuki usia 7 bulan, diadakan ritual Mitoni untuk saya dan jabang bayi. Ada satu tahap ritual yang harus saya lalui yaitu minum secangkir jamu pahit...olala, saya tak kuasa menolaknya karena yang membuat jamu dan bertugas meminumkannya adalah Ibunda mertua tercinta...apalagi ada sesi foto-foto saat minum njamu ini...huaa-huaaa...terpaksa saya terpaksa minum jamu pahit itu demi menjaga perasaan para sesepuh dan berjuang bermuka manis didepan fotografer dadakannya...., untung setelah fotonya jadi, wajah saya tetep terlihat manis, wong saya cuma akting saja...tapi...ternyata setelah itu Ibunda mertua bilang jamunya harus dihabisken. Titik.

Tak berhenti sampai disitu pengalaman pahit saya dengan jamu-jamuan pahit, selama 40 hari setelah melahirken, oleh Ibu dan Ibu mertua saya juga dipaksa untuk minum jamu uyup-uyup atau gepyokan , jamu ini dipercaya dapat meningkatken produksi ASi pada ibu yang sedang menyusui. Konon khasiat lain dari jamu uyup-uyup ini adalah menghilangkan BB yang kurang sedap dan 'mendinginken'perut. Buat saya, khasiatnya walaualaam deh...yang jelas produksi ASi saya memang berlimpah hingga anak saya berusia 2 tahun, mungkin karena jamu uyup-uyup ini atau mungkin memang saya suduh' pabrik susu yang produktip dari sononya '...hehe...

Yang anehnya, pengalaman pahit saya dengan jamu ternyata saya turunken juga kepada Karin & Aizs putri saya, yang sejak kecil memang menjadi otoritas YangTinya untuk menggulawentahnya. Saya tak pernah bisa menolak ketika Ibu saya mencekoki kedua putri saya dengan jamu godhong kates supaya napsu makan mereka menjadi lebih baik. Bahkan sayalah yang bertugas memegangi tangan dan kaki anak-anak ketika YangTi mengeksekusi mereka dengan cekokannya...Sungguh, saya memang ibu yang aneh...Maapken Ibumu, nak.

Bicara mengenai jamu yang dijajaken oleh para bakul jamu gendong yang sering kita temui, rupanya ada 'bahasa bakul jamu' tertentu yang tak sembarang orang tahu artinya..., konon jumlah gendul (botol) dalam bakul sang embok2 ataupun embak2 merupakan perlambang status sipenjual. kalau jumlah botolnya genap artinya sipenjual ini sudah ada yang punya, kalau jumlah botolnya ganjil, katanya si embak jamu ini adalah seorang yang single, bisa masih perawan eh gadis dhing... bisa juga sudah jandeee...Begitcuuu....Bener dan tidaknya, cubak deh iseng2 ditanyaken kepada yang bersangkutan, jangan nanyak ke saya...saya bukan bakul jamu, tau'?